Sunday, March 27, 2011

Membaca Arah Gerakan KAMMI Pasca Muktamar Aceh

Ramlan Nugraha, KAMMI Jawa Barat


Muktamar VII KAMMI di Nanggroe Aceh Darussalam menghasilkan beberapa hasil yang cukup mengejutkan. Salah satunya adalah terpilihnya Muhammad Ilyas sebagai Ketua Umum KAMMI Pusat untuk Periode 2010-2012. Terpilihnya Saudara Ilyas sebagai Ketua Umum menunjukkan preferensi kader KAMMI dalam memilih pemimpin di ruang lingkup internal organisasinya.

Menurut pendapat penulis, preferensi atau selera kader, kecenderungan untuk memilih pemimpin KAMMI pada waktu Muktamar didasarkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah pertama, kesesuaian antara karakter pemimpin dengan organisasi. Faktor kepribadian personal, yang bisa ditunjukkan dengan ketenangan sikap, kesolehan pribadi, kemampuan mengontrol emosi, menjadi faktor dominan yang dipilih oleh kader Kammi. Faktor ini sangat erat kaitannya dengan pernyataan bahwa sosok pemimpin akan dijadikan teladan bagi semua anggota.

Kedua, perubahan prioritas karakter gerakan. Sosok Ketua Umum terpilih merupakan representatif dari anggota keseluruhan. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa mayoritas Kamda di daerah menginginkan sosok karakter gerakan seperti Saudara Ilyas yang merupakan Ketua Bidang Pengkaderan KAMMI Pusat pada periode sebelumnya. Karakter ini diharapkan bisa lebih mendukung gerakan KAMMI.

Ketiga, Kejumudan akan content gerakan eksternal. Tidak jelasnya arah gerakan eksternal organisasi periode sebelumnya menjadikan mayoritas kader Kammi menginginkan perubahan berupa pembenahan internal organisasi. Dengan basis keilmuan yang dimiliki Ketua terpilih, diharapkan pembenahan internal organisasi baik berupa peningkatan kualitas dan kuantitas anggota maupun pengembangan manajemen organisasi bisa dilakukan dengan cepat.

Kepercayaan kader Kammi secara nasional kepada Ketua Umum terpilih tentu harus dijawab dengan penuh tanggung jawab. Sebagai organisasi pengkaderan dan pergerakan, keseimbangan gerakan antar keduanya mutlak dilakukan. Kerja tim, kekuatan konsolidasi antar semua elemen yang ada di kepengurusan pusat sampai komisariat menjadi tantangan tersendiri bagi kepengurusan baru. Tetapi sebelum kerja-kerja tersebut dilakukan, hal yang musti dilakukan adalah membangun tim yang kuat di kepengurusan pusat itu sendiri. Wallahu’alam bishshawab.

Bandung, 26 Maret 2011