Friday, January 9, 2009

KILAS BALIK MUKTAMAR VI KAMMI

>1. Awal Perjalanan

Muktamar VI ini adalah Muktamar yang kedua yang saya ikuti. Sebelumnya, sekitar bulan September 2006 kami juga berangkat ke Palembang untuk melaksanakan agenda yang sama. Berbeda dengan keberangkatan kami dua tahun lalu, keberangkatan kami kali ini menggunakan jalur udara. Sesuatu yang excited bagi saya dan beberapa rekan yang kali pertama naik pesawat terbang.


Makassar, November 2008
Dzulqo’idah 1429 H.


Kami berangkat dari Bandung sekitar pukul 10.00 WIB menggunakan mobil pribadi. Sebelum finish di Bandara Udara Soekarno Hatta, kami transit terlebih dahulu ke rumah akh Rizal di Bekasi. Sekedar melepas penat dan lapar dahaga, kami mampir agak lama di rumah makan Padang milik keluarganya. Setelah itu kami langsung meluncur lagi dan sampai di Bandara sekitar pukul 18.00 WIB. Sesuai rencana, keberangkatan kami ke Makassar dijadwalkan pukul 19.45 WIB menggunakan Pesawat Lion Air. Sejam sebelum take off kami harus check inn terlebih dulu. Tepat pukul 19.45 WIB kami pun terbang menuju Makassar.


2. Hari-hari di Muktamar




Awal kita menjejakkan kaki di Makassar sekitar pukul 23.30 WITA. Waktu itu karena kali pertama ke sana, suhu disana agak sedikit berbeda dengan di Bandung. Lokasi yang dekat dengan laut, menjadikan kota ini sering dihembusi angin laut yang kering. Pantaslah kalau kota ini mendapat julukan Angin Mammiri, angin yang berhembus kencang.



Berangkat ke tempat lokasi Muktamar (Lembaga Administrasi Negara Sulsel) kami diantar langsung oleh mobil panitia tepatnya setelah satu jam menunggu di bandara. Walaupun menunggu adalah pekerjaan membosankan, tapi waktu itu kami tidak merasakan hal tersebut. Hiruk pikuk bandara yang masih hidup sampai tengah malam menjadi suasana tersendiri bagi saya dan mungkin bagi rekan-rekan lainnya, terkecuali mungkin bagi mereka yang diserang penyakit kantuk.

Pedasnya Coto Makassar sepertinya menjadi penahan lelah dan beban kami setelah perjalanan dari Bandung-Makassar yang menghabiskan waktu sekitar 10 jam. Menikmati makanan khas daerah ini di waktu tengah malam menjadi kenangan awal yang sepertinya harus kami simpan lama-lama di long term memory kami. Rasanya cukup ma nyuss bila dibandingkan dengan coto Makassar ala Bandung, campuran dagingnya yang khas dibarengi dengan sup pedas gurih menjadikan lidah kering kerontang langsung bergoyang layaknya mendengar lagu Bang Rhoma Irama. Mantap !


3. Diskusi dengan Teman-teman


Kedatangan kami yang telat menjadikan kami tidak ikut dalam pembukaan awal sekaligus proses ta’aruf dengan teman-teman KAMDA lain. Agak mengecewakan memang, tapi sudahlah toh itu sudah lewat. Mau tidak mau, kami harus balas itu dengan rajin silaturahim langsung dengan mereka yang sudah hadir duluan.



Peserta Muktamar yang hadir berjumlah sekitar 200-an, terdiri dari 44 KAMMI Daerah seluruh Indonesia dan para Pengurus Pusat KAMMI. 2 Daerah yaitu Sumedang dan Minahasa (Sulawesi Barat) meskipun ikut Muktamar, tapi mereka belum sah menjadi KAMMI Daerah karena belum mendapat SK dari Ketua Umum. Walaupun begitu, mereka tetap diikutsertakan dalam setiap acara dengan identitas sebagai peserta peninjau.

Bagi saya, kesempatan ikut Muktamar adalah ajang konsolidasi akbar dimana setiap orang disana harus saling mengenal. Sangat rugi kalaulah kita hanya mengenal beberapa orang saja, oleh karena itu sejak awal saya mempunyai komitmen untuk mengenal semua peserta yang hadir, termasuk para satpam, sopir angkot, penjual nasi campur, dan seabreg orang yang saya temui.

Dua tahun lalu di Palembang, saya kali pertamanya berkenalan dengan akh Isra, perwakilan dari Maluku Utara. Setelah selesai Muktamar, kami hampir tidak pernah berkomunikasi lagi. Cerita-cerita beliau tentang ikan tenggiri yang menggiurkan dengan tawaran investasi yang cukup wah masih teringat di kepala saya sampai sekarang. Sampai akhirnya kami diberikan kesempatan untuk bertemu kembali di Makassar dengan cerita-cerita beliau yang persis sama. Tetap menggiurkan dan Wah !


4. Proses Sidang



Pertemuan Pra Muktamar bulan Agustus di Jakarta kemarin seharusnya menjadi bekal semua daerah untuk lebih siap dalam menghadapi Muktamar kali ini. Tapi nyatanya, mungkin karena yang hadir pada waktu itu hanya sekitar 23 KAMMI Daerah sehingga proses transformasi tidak berjalan semestinya kepada masing-masing daerah yang tidak hadir. Agak sulit kalau begini, saya sempat berpikir, dana puluhan juta untuk agenda Pra Muktamar sepertinya lenyap begitu saja tatkala mayoritas peserta yang hadir menolak untuk berdiskusi tentang hasil kesepakatan Pra Muktamar kemarin.

Kalau sudah begini, apa daya keputusan bersama harus kita laksanakan demi ketertiban jalannya sidang dan yang lebih utama agar ukhuwah tetap terjaga, tanpa ada kerenggangan di antara kita. Jujur, walaupun rasa kecewa masih ada.


5. Pemilihan Ketua Umum


Setelah didapat 10 (sepuluh) orang bakal calon ketua umum lalu mereka semua diberikan kesempatan untuk memberikan penjelasan tentang visi misinya masing-masing. Cukup seru juga, karena setiap orang mempunyai basic yang berbeda dengan asal daerah yang berbeda-beda. Mereka berasal dari Kamda Bandung, Jakarta, Semarang, Malang, jogjakarta, Lampung dan Makassar.




Pemilihan ketua umum ini kita mulai dini hari, yaitu sekitar pukul 01.00 WITA. Cukup panjang juga sehingga membuat banyak peserta dan calon merasa lelah karena sudah bersidang dari tadi pagi.

Sebelum shubuh tiba, ketua umum yang baru akhirnya terpilih. Saudara Rahmantoha Budiarto, Sekjen KAMMI periode 2006-2008 sebelumnya.


6. Refreshing




Agenda selanjutnya pasca terpilihnya ketua umum yang baru adalah agenda refreshing. Kami, perwakilan dari Bandung sengaja jalan-jalan ke pantai Losari, tempat terkenal di Sulawesi bagian selatan. Sebelum kami menceburkan diri ke pantai, kami sengaja ingin kembali merasakan makanan asli Makassar. ada beberapa menu yang saya santap disana, misalnya sup lebah. sup yang memang bahan dasarnya adalah lebah ini cukup lezat juga, apalagi dicampur dengan sambal dan kecap, rasanya ma’nyus. Harganya kalau tidak salah, Rp 12.000/porsi. Perut kenyang, kami berpoto ria di depan tempat makan asli makassar tersebut.




Inilah Pantai Losari yang menjadi icon Kota Makassar itu. Huruf-huruf ini cukup besar juga, anda bisa duduk menyender di tengah-tengah huruf “O”. di depan pantai-pantai ini banyak tersebar toko-toko yang menjual berbagai souvenir khas Makassar dan Toraja. Sayang, saya tidak memotret bagian tersebut. saya sendiri membeli sekitar lima potong kaos, he..he.. sekalian ke Makassar jarang-jarang githu. Harga kaos untuk ukuran XL bervariasi dari mulai Rp 24.000-35.000 untuk lengan tangan panjang. Saya pikir harganya tidak terlalu jauh bila dibandingkan dengan di Bandung. Karena terlalu banyak membeli kaos, saya kelupaan untuk membeli makanan khasnya. Pas inget, eh ternyata uang di dompet sudah tidak mencukupi lagi. ya sudah, mungkin kapan-kapan lagi. Insya Allah.

Nah, arah tersebut adalah menuju pulau Kalimantan. Walaupun ngga kelihatan pulaunya (mungkin karena jauh kali ya..) tapi kita bisa melihat dengan jelas kapal-kapal yang mau berangkat kesana. Tidak jarang juga ada kapal nelayan yang sedang mencari ikan. Saya dan teman-teman menyewa sebuah perahu kecil untuk mengelilingi pantai losari ini, cukup berkesan karena cuaca yang mendukung disertai dengan hempasan angina mammiri. Harganya tidak mahal, kalau ngga salah saya hanya bayar Rp 5000 untuk sekali jalan/20 menit. Cukup murah karena yang naik cukup banyak juga, maklum namanya juga mahasiswa.


to be continued...