Friday, January 23, 2009

Nagrek 53,2 Fahrenheit

In Memoriam Musyawarah Wilayah (Muswil) I KAMMI Jawa Barat


Cerita ini bukan seperti halnya 9/11 Fahrenheit yang terkenal itu, ataupun cerita mencekam Greg Mortenson, seorang pendaki yang tersesat di Pegunungan Karakoram, Pakistan yang pengalamannya itu baru-baru ini dia tulis menjadi sebuah buku berjudul Three cup of Tea. Bukan ! cerita yang saya tulis ini berjudul Nagrek 53,2 Fahrenheit, sebuah pengalaman pribadi yang menceritakan perjalanan Bandung-Tasikmalaya yang saya tempuh dengan sepeda motor. Meskipun jaraknya tidak terlalu panjang, namun cukup berharga untuk saya tulis sebagai sebuah reward atas sebuah dedikasi dan semangat dalam mengejar sebuah tujuan.

1. Proses Keberangkatan

Jum’at, 16 Januari 2009

Kami berangkat dari kampus Universitas Islam Bandung (Unisba) pukul 16.00 WIB. Sengaja kami start disana karena sebelumnya harus mengunjungi seorang teman yang sedang sakit. Rumahnya di sekitar Taman Sari, sehingga setelah menjenguk beliau kami putuskan untuk berangkat dari sana saja.



Sebelum memasuki Kabupaten Sumedang, hujan mulai turun rintik-rintik. 10 menit berselang, hujan seolah tidak mau kalah dengan desingan engine sepeda motor yang kami tancap secepat mungkin. Kami pun mengalah, menepi ke sebuah warung dan menikmati hidangan gorengan. Huuh, mantap !

Setelah 15 menit menunggu, sepeda motor kami pun tancap kembali. Walaupun tanpa berbekal jas hujan, tak menyurutkan semangat kami untuk memenuhi undangan menghadiri Musyawarah Wilayah (Muswil) KAMMI Wilayah Jawa Barat yang bertempat di daerah Mangkubumi, Tasikmalaya. Sesuai agenda, rencana pembukaan akan dimulai pukul 20.00 WIB. So, kami pun mengejar waktu untuk bisa hadir tepat waktu sampai di sana sebelum pembukaan.

Seolah tak menghiraukan semangat yang menderu-deru dalam dada kami, hujan pun sepertinya tidak bisa diajak kompromi dengan kami. Tepat sebelum melewati Nagrek, terpaksa kami harus berhenti kedua kalinya karena hujan turun semakin deras.

Waktu di jam tangan menunjukkan pukul 17.30. Setelah hujan agak reda, kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Kabupaten Bandung terlewati, lalu Sumedang, Garut, Kabupaten Tasikmalaya, dan akhirnya sampai juga ke Kota Tasikmalaya.



Agenda Muswil bertempat di Hotel Padjajaran, Daerah Mangkubumi Kota Tasikmalaya. Awalnya saya diberitahu oleh beberapa rekan pengurus KAMMI Bandung bahwa tempatnya di Hotel Lingga Jaya. Untunglah karena lokasi tempat yang sebenarnya berada di depan jalan, sehingga tidak kesulitan kami menemukannya. Alhamdulillah, akhirnya sekitar pukul 19.00 kami pun sampai ke tempat tujuan. Sangat gembira, bertemu rekan-rekan lain dari berbagai daerah di Jawa Barat. Tapi lebih dari itu, kami bisa selamat dengan kondisi sehat wal’afiat.

2. Agenda Acara


Setelah istirahat sejenak, sekedar melepas penat karena diguyur hujan sekitar 2 jam lamanya sebenarnya ingin rasa hati untuk langsung menuju tempat peraduan. Namun karena tujuan utama adalah mengikuti Muswil, dengan berat hati plus kondisi badan yang sedikit sempoyongan kami azzamkan untuk ikut Muswil.

Agenda pembukaan ternyata diundur sampai besok Sabtu. Untuk malam ini hanya proses perkenalan dan penyampaian gambaran umum tentang draft arahan content Muswil oleh SC Muswil.

Alhamdulillah semua perwakilan Kamda bisa ikut dalam acara perkenalan (ta’aruf) tersebut. Tasikmalaya, Garut, Sukabumi, Sumedang, Cirebon, Ciamis (persiapan) dan Bandung sendiri yang baru diwakili oleh saya dan akh Dwi UPI. Peserta yang terbanyak tentu datang dari kontingen tuan rumah Tasikmalaya, setelah itu disusul oleh kontingen Garut yang berjumlah 6 (enam) orang, dan yang palling sedikit dari Sumedang yang baru diwakili oleh Akh Fadli.

Bentroknya agenda Muswil dengan Pra Musda KAMMI bandung pada Sabtu, 17 Januari 2009 membuat perwakilan dari Bandung datang hanya pada akhir-akhir Muswil. Saya sendiri, selaku panitia Pra Musda cukup kecewa dengan SC Muswil yang mendadak memberitahu waktu pelaksanaan Muswil. Alangkah lebih baik kalau kedepannya, setiap agenda itu dikomunikasikan sehingga tidak terjadi kasus seperti ini. sekedar informasi, bahwa agenda Pra Musda telah kami siapkan dengan matang dan dengan menghadirkan seluruh kader KAMMI se-Bandung, khususnya para pengurus komisariat. Memang terkesan agak arogan, tapi profesionalisme berorganisasi kalau tidak diterapkan sekarang, mau kapan lagi. So, tanpa mengurangi rasa hormat kepada SC Muswil dan esensi dari kegiatan tersebut kami pun tetap melaksanakan Pra Musda.

Acara malam ini berakhir pukul 00.30 dini hari. Setelah selesai, tanpa basa-basi kami pun langsung cabut ke kamar masing-masing, termasuk saya juga tentunya. Kamar nomor E4 yang kami tempati cukup nyaman juga. Berukuran sekitar 3x5 meter, 2 tempat tidur, fasilitas AC manual, Televisi 14 inchi serta kamar mandi dilengkapi water spray.

Setelah membaca Qur’an beberapa lembar, lalu menengok jam tangan yang sudah menunjukkan waktu pukul 01.30, akhirnya rasa kantuk seolah tak bisa dihadapi lagi. Bismika Allahumma ahya wa bismika amut. Ya Robbi, ampuni hamba atas segala dosa yang telah dilakukan, berikan kekuatan untuk menghadapi hari esok dengan penuh optimistis. Amin.



Sabtu, 17 Januari 2009


Sesuai dengan rencana awal, karena paginya kami harus melaksanakan Pra Musda di Bandung, maka tepat pukul 03.15 dini hari kami berangkat kembali menuju Kota Bandung. Kali ini gantian, saya yang mengemudikan sepeda motor.

Dari pukul 03.15-04.00 jalanan yang kami lewati cukup sepi, tapi setelah lewat dari jam tersebut kendaraan besar pengangkut batu, pasir, dll mulai berlalu-lalang di depan kami. Walaupun mata saya divonis min ½ tapi untuk kondisi seperti ini Alhamdulillah masih bisa ditangani. Ah, jalan teruus brother ...

Baju rangkap tiga, sarung tangan lengkap, sepatu sport plus kaos kaki yonex asli disertai helm full face ala biker tidak cukup kuat untuk menghadapi dinginnya kondisi saat itu. Suhu dibawah 19° celsius terpaksa dihantam saja, mengingat kita harus sampai di Bandung sebelum pukul 07.00.

Sebelum mengakhiri Nagrek, tanda pembatas sisi jalan sudah tidak bisa saya lihat lagi. Jalanan gelap tanpa lampu penerang. Sampai-sampai karena disangka masih berada di lintasan jalan saya, sisi kiri jalan yang berupa tanah bebatuan saya gasak saja tanpa basa-basi. Ban depan-belakang oleng, penumpang di belakang pun riweuh, eiits tunggu dulu. Akhirnya tanpa tedeng aling-aling jurus ngelmu di pabrik Motor Plus bisa dikeluarkan juga. Alhamdulillah deg-degan kami pun akhirnya bisa diatasi dengan lancar.

Berhenti untuk sholat shubuh
Isi bensin sampai full tank
Lalu tancap gas
Tarik jabrig…



Salman ITB Bandung
Pukul 06.00 WIB, Sabtu 17 Januari 2009




Perjalanan yang cukup melelahkan dari Tasikmalaya berakhir sudah. Kurang lebih 3 jam kami menghabiskan waktu untuk memacu sepeda motor. Setelah memarkir sepeda motor di ruang parkir salman, cuci muka ala kadarnya, lantas kami pergi menemui petugas GSS Salman.

Ruangannya memang cukup sempit, berukuran sekitar 4x6 meter dengan kapasitas 40 orang. Walah, padahal peserta diperkirakan berjumlah sekitar 60 orang. Ya, karena konfirmasi tempat Bapeda Jabar yang mendadak tidak bisa, terpaksa alternatif terakhir tempat Pra Musda jadinya disini. Yang penting, mesti bersyukur.

Beres-beres ruangan, nyari tambahan meja dan beberapa kursi, akhirnya ruangan pun kami permak khas ala KAMMI. Walaupun peraturannya dilarang bawa meja, kursi dari tempat lain, ya mau bagaimana lagi wong sepertinya kursinya kurang. Mbandel sedikit nggak apa-apa lah.,.

Ruangan beres, kita pindah ke luar untuk pasang-pasang bendera di sekitar halaman Masjid Salman. Sebenarnya ini tugas dari temen-temen Unpad dan ITB, tapi sampai tadi pagi batang hidung mereka belum juga pada nyampe. Terpaksa mau tidak mau kami pun melakukannya berdua. Halah..

Waktu menunjukkan pukul 08.00, karena tidak tahan dengan perut yang keroncongan kami pun lantas membabat habis sarapan lontong kari.

Walau belum sempat mandi, hanya bagian muka saja yang keserempet air, tidak menyurutkan langkah kami untuk memulai acara (untung para audiences pada tidak tau...). Acara pun dimulai !





To be continue..